Kamis, 12 Maret 2020

Tips Membeli Barang di Yahoo Auction Jepang

Jepang adalah salah satu surga bagi penikmat barang bekas dan barang murah. Barang-barang tersebut dapat dibeli secara online maupun offline. Secara online anda bisa menemukan di beberapa toko seperti 2nd street, Book off, Tsutaya dan lain-lain. Kali ini saya coba membahas bagaimana cara membeli barang di situs lelang yahoo auction. Situs ini menarik sekali karena kita bisa membeli barang dengan harga yang sangat murah, ada barang yang dilelang mulai harga 1 yen. Hal apa yang perlu diperhatikan ketika akan membeli barang di yahoo auction :

1. Buat Akun
Membuat akun di situs tersebut, cara mudah seperti registrasi di situs jual beli lainnya. Cukup mendaftarkan email dan nomor hp, maka anda sudah memiliki akun yang siap untuk membeli barang.

Formulir Pendaftaran


2. Mencari Barang
Ada beberapa cara untuk memilih barang, bisa dengan mencari dari kategori yang ada. Pilih kategori dari barang yang akan anda beli, misalkan sepeda, auction figure atau console game.  Cara kedua anda bisa mengetik barang yang anda cari di kolom pencarian, yang perlu diingat adalah tidak semua iklan ditulis dengan bahasa inggris, sebagian besar ditulis di bahasa jepang. Jadi anda akan lebih mudah mencari barang jika mengetikkan nama atau jenis barang dengan bahasa jepang.

Cara Pencarian Barang
3. Memilih Barang
Anda harus teliti sebelum memilih barang yang akan dibeli, pada umumnya penjual akan mendiskripsikan barangnya secara detail di iklannya, namun semuanya ditulis dengan bahasa jepang (*anda bisa menerjemahkan dengan google translate). Jika ada informasi yang tidak lengkap silahkan ajukan pertanyaan langsung ke penjual melalui kolom komentar. Ketika memilih barang perhatikan kelengkapan, kondisi dan yang lebih penting adalah ongkos kirim. Karena beberapa barang dijual dengan harga murah namun ongkos kirimnya mahal. Anda bisa mengecek ongkos kirimnya di iklan, namun jika tidak tersedia silahkan tanyakan ke penjual. Perhatikan juga reputasi penjual, usahakan membeli dari penjual dengan reputasi yang baik.

Memilih Barang Sesuai Keinginan

4. Melakukan Penawaran (Bid)
Jika sudah memilih barang yang ada inginkan, anda bisa melakukan penawaran atau bid. Pemenang lelang adalah pembeli yang melakukan penawaran terakhir di akhir sesi lelang. Pada kategori yang saya sukai (sepeda), biasanya lelang akan berakhir pada malam hari. Sehingga ketika saya ingin membeli barang, saya akan bergadang untuk melakukan penawaran. Tipsnya jangan mudah terpancing ketika melakukan penawaran, karena yang menginginkan barang tersebut bukan hanya anda, jadi akan ada penawar lain. Jika harga penawaran sudah terlalu tinggi, maka lebih baik anda tidak melanjutkan penawaran. Silahkan cari barang lain yang harganya masih wajar, kuncinya harus sabar dan tidak terburu-buru. Jika anda menginginkan barang tersebut dengan cepat maka lebih baik anda membeli barang di toko offline atau beli barang baru yang pada umumnya harganya lebih mahal. Cara menawarkan tinggal klik tombol "bid", dan masukkan angka penawaran anda.


Panduan Melakukan Penawaran
5. Melakukan Pembayaran
Jika anda menjadi pemenang lelang, anda akan diminta untuk mengisi formulir yang berisi identitas dan alamat tujuan pengiriman barang. Setelah disetujui oleh penjual, anda akan mendapatkan notifikasi dan email terkait pembayaran. Anda bisa memilih pembayaran dengan berbagai cara seperti kartu kredit atau lewat minimarket(konbini) seperti seven eleven, family, lawson. Saya sendiri lebih suka pakai family mart karena dekat dengan apato dan saya tidak punya kartu kredit.

6. Pengiriman Barang
Setelah pembayaran selesai, maka barang akan dikirim oleh penjual dan tinggal menunggu barang pesanan kita sampai. Saat barang sudah sampai, jika ada ketidaksesuai barang anda bisa menghubungi penjual untuk melakukan protes. Jika barang tidak dikirim dalam waktu tertentu, anda bisa meminta pengembalian dana dari yahoo auction. Tidak ada potongan sedikit pun jika ada pengembalian dana seperti ini.


Demikian tips sederhana dari saya, semoga bermanfaat.
read more...

Rabu, 11 Maret 2020

Bagaimana Mahasiswa Jepang Menjaga Kebersihan Kampusnya

Satu hal yang paling menyenangkan tinggal di Jepang adalah lingkungan yang bersih. Kali ini ingin cerita bagaimana mereka dapat menjaga lingkungan di sekitar mereka terutama kampus agar tetap bersih. Kampus tempat saya menuntut ilmu sangat bersih untuk ukuran di Indonesia, perlu diingat bahwa kampus ini bersih bukan karena banyaknya petugas kebersihan melainkan kesadaran setiap orang untuk menjaga kebersihan. Ketika di Indonesia maka kita sering sekali menjumpai dimana-mana petugas kebersihan yang sebenarnya kerjaan mereka tidak perlu jika kita mampu menjaga lingkungan kita masing-masing.

Departemen tempat saya belajar berada di sebuah gedung berlantai 8 dengan masing-masing lantai memiliki luasan sekitar 1400 meter persegi. Sangat sulit menemukan petugas kebersihan di gedung ini, kecuali satu orang yang bertugas membersihkan toilet. Lalu bagaimana dengan ruangan lain? siapa yang membersihkan. Jawabannya adalah seluruh civitas akademika kampus di gedung tersebut. Tidak terkecuali seoarang profesor, bukan hal yang aneh ketika saya melihat seorang profesor membersihkan ruangan, mencuci piring atau gelas, karena mereka memang sering membuat minumnya sendiri. Jauh sekali dari sifat yang ingin selalu dilayani ketika orang berada dalam jabatan yang tinggi, mungkin sifat ingin dilayani ini sering kita temukan...he..he..tidak perlu saya sebutkan dimana.
Tempat Sampah Sesuai dengan Jenis Sampahnya
Perilaku-perilaku mahasiswa yang perlu dicontoh adalah, setiap selesai menggunakan kelas maka kita punya tanggung jawab membersihkan ruangan tersebut. Termasuk membersihkan lantai, merapikan kabel jika menggunakan listrik, menghapus papan tulis hingga mengunci ruangan setelah selesai digunakan. Sehingga pengguna ruangan berikutnya tinggal memakai dan membersihkannya lagi setelah selesai. 

Kebersihan laboratorium juga sangat terjaga, tidak ada laboran atau petugas keberihan. Setiap laboratorium punya jadwal dan cara untuk menjaga kebersihan laboratoriumnya. Seperti di laboratorium saya, punya jadwal bersih-bersih setiap hari jumat siang. Hal itu diluar tanggung jawab mahasiswa membersihkan segala sesuatu setelah ia gunakan dalam eksperimen. Sehingga bisa dibayangkan, ketika bersih-bersih hari jumat sebenarnya tidak banyak yang dilakukan karena kebersihan sudah dijaga setiap hari. Ketika pertama kali tahu ada jadwal bersih-bersih di hari jumat, langsung ingat di Indonesia ada tradisi "Jumat Bersih" yang waktu saya SD sering dilakukan. Jumat bersih di Indonesia adalah kerja bakti di hari Jumat, walaupun tidak setiap hari jumat, mungkin satu bulan sekali. Sayangnya sudah sulit menemukan "Jumat Bersih" di Indonesia dan justru saya temukan di negara orang lain.

Selain jadwal bersih-bersih hari jumat ada juga kegiatan membersihkan laboratorium secara total di setiap akhir tahun. Semua aktivitas eksperimen dihentikan, semua alat dan instrumen dibersihkan, peralatan-peralatan dibongkar untuk dibersihkan kemudian dirangkai kembali. Hal ini membutuhkan waktu seharian penuh dengan keterlibatan semua civitas tidak terkecuali. Semua ikut membersihkan dengan antusias dan tanggung jawab, satu hal yang tidak pernah saya temui di aktivitas sehari-hari adalah para mahasiswa melakukan aktivitas sambil bercanda untuk mencairkan suasana dan tidak merasa berat. Karena aktivitas bercanda sangat sulit saya temukan ketika mereka bekerja di laboratorium melakukan eksperimen atau aktivitas di kelas. 

Bagaimana lingkungan ini bersih bukan karena mereka orang Jepang sedangkan kita orang Indonesia tidak bisa. Buktinya orang Indonesia yang tinggal di Jepang juga bisa mengikuti sistem yang ada, ikut menjaga kebersihan dan ikut membersihkan. Artinya tinggal bagaimana kemauan kita untuk menjaga kebersihan dan membersihkan. Menjaga kebersihan dengan tidak membuat sampah sekecil apapun, ketika anda ingin membuang satu bungkus permen yang sangat kecil karena beranggapan sampahnya cuma kecil kok, ga apa-apa. Coba dipikirkan bagaimana jika ada 10, 100, 1000 orang memiliki pemikiran seperti anda, maka akan ada 1000 sampah permen (ini bukan sampah yang kecil). Membersihkan sendiri tempat kita beraktivitas bukanlah sesuatu yang memalukan, dan sama sekali tidak merendahkan harga diri anda. 

Satu hal lagi adalah jika anda tidak mampu membersihkan maka jangan membuat kotor.
read more...

Selasa, 10 Maret 2020

Pengalaman Pulang ke Surabaya dari Hiroshima Lewat Osaka

Tinggal di negeri orang terkadang membuat kangen kampung halaman yang teramat sangat, maka pilihannya adalah mudik/pulang kampung. Awal tahun 2020 berkesempatan pulang Indonesia untuk jemput anak lanang. Sebenarnya ada penerbangan dari Hiroshima Airport ke Surabaya dengan satu kali transit di Singapore, namun pada saat itu harganya sudah tidak masuk akal bagi kami. Satu penumpang untuk satu perjalanan bisa menembus 10 juta rupiah. Sehingga kita cari akal bagaimana untuk mendapatkan tiket murah walaupun usaha yang kita keluarkan harus berlebih.

Akhirnya kita mendapatkan tiket murah dari Osaka (Kansai Airport) menuju Surabaya dengan satu kali transit di Singapore, harga cukup terjangkau yaitu tidak sampai 2 juta rupiah. Setelah dapat tiket maka masalah berikutnya adalah bagaimana cara kita ke Osaka. Ada beberapa pilihan seperti kereta cepat, kereta biasa atau bus malam. Dengan pertimbangan harga dan kemudahan akses maka kami pilih naik bus malam dengan harga sekitar 5 ribu yen per orang, yang bisa dibeli di co-op Universitas (koperasi) atau bisa beli online di willer exspress.

Menunggu bus di Halte Daigaku Kaikanmae

Tiba saatnya pulang, jadwal bus kami jam 11 malam dengan tempat penjemputan di Daigaku Kaikanmae, halte bus kampus Hiroshima University. Karena jarak tidak terlalu jauh dari apato, kami jalan menuju halte bus. Beberapa menit menunggu akhirnya bus datang tepat waktu, tinggal masuk dengan menunjukkan tiket ke sopir bus. Perjalanan malam ditempuh sekitar 6 jam dengan bus yang cukup nyaman dengan fasilitas toilet di dalamnya. Perbadaan bus malam ini dengan bus malam di Indonesia pada umumnya adalah ketika bus jalan semua penutup jendela ditutup bahkan ada penutup antara penumpang dan sopir. Sehingga selama perjalan, praktis kita tidak tahu apa-apa karena seperti dikurung dalam sangkar. Jadi satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah tidur atau main HP.

Sekitar jam 5 pagi hari berikutnya kita sampai di Osaka Station, karena penerbangan kita sore hari jadi kita bisa istirahat dulu sambil sarapan dengan makan bekal yang sudah kita bawa. Setelah cukup istirahat kita lanjut perjalan ke Kansai Airport dengan bus Limousine, dari Osaka Station cukup menyebrang jalan menuju ke Halte Bus Shin Hankyu Hotel. Cukup banyak pilihan keberangkatan ke bandara tinggal beli tiket sesuai dengan jadwal keberangkat yang diinginkan dengan harga tiket sekitar 1500 yen. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai bandara sekitar satu jam. Jika membawa barang di dalam bagasi jangan lupa memberikan info kepada petugas, akan turun di terminal berapa agar barang tidak tertukar dan mudah mengambilnya saat turun.

Sampai di bandara Kansai Osaka, masih cukup waktu istirahat sambil nunggu waktu chek-in, bisa jalan-jalan karena bandara cukup luas dibandingkan Hiroshima Airport, dan ada beberapa restoran halal yang tersedia. Jika dirasa oleh-oleh untuk orang dirumah kurang, sangat banyak pilihan untuk membeli oleh-oleh di bandara ini dengan harga yang tidak terlalu mahal. Bahkan beberapa barang harganya sama dengan kalau kita beli diluar di bandara. Hingga waktunya boarding, tinggal naik pesawat dan jangan lupa perjalanan masih panjang karena harus transit di Singapore. Perjalanan di pesawat dan transit tidak perlu diceritakan karena ya begitu-begitu saja.

Kesimpulannya perjalanan ini lebih murah 1/4 jika kita naik pesawat dari Hiroshima Airport, namun ada yang harus kita bayar lebih yaitu tenaga dan waktu. Sebagai catatan kita berangkat dari Hiroshima University jam 11 malam hari jumat, dan kita sampai di Surabaya jam 9 pagi hari minggunya. Jika tidak buru-buru dan ingin sekaligus berpetualang atau mungkin bisa jalan-jalan dulu dan menginap satu malam dulu di Osaka bisa dicoba. Selisih harganya bisa dipakai untuk membeli oleh-oleh atau jalan-jalan di Universal Studio.
read more...

Kamis, 05 Maret 2020

Aktivitas Kuliah Doctoral di Hiroshima University

Foto Bersama Istri saat Entrance Ceremony

Tulisan ini hanya berisi pengalam pribadi, terutama di semester pertama kuliah S3 di Hiroshima University. Terkait bagaimana cara daftar, mencari pembimbing dan pembiayaan kuliah akan saya tulis di postingan yang berbeda.
Program doktor di Hiroshima University terutama di departemen saya, Applied Chemistry tidak ada perkuliahan di kelas melainkan program dengan full riset di laboratoraturium. Syarat kelulusan adalah publikasi internasional dan disertasi. Jadi bisa dipastikan di bulan pertama kuliah, saya langsung melakukan eksperimen yang sebelumnya sudah dikonsultasikan dengan pembimbing. Setiap tahun, mahasiswa diminta untuk mengumpulkan research plan tahunan yang ditanda tangani oleh pembimbing dan co-pembimbing.

Perbedaan eksperimen yang saya dilakukan disini dibandingkan ketika saya kuliah di Indonesia adalah semua hal dilakukan secara mandiri. Semua peralatan dan bahan disediakan secara penuh oleh laboratorium, bahkan jika kita kekurangan bahan atau tidak memiliki maka laboratorium akan memesankan barang tersebut dan akan tiba kurang dari satu minggu. Semua eksperimen hingga karakterisasi dilakukan sendiri tanpa ada batasan jumlah sampel. Misalkan di Indonesia ketika kita sudah berhasil mesintesis sebuah material maka kita akan melakukan karakterisasi di laboratorium tertentu dengan membayar uang dan tinggal nunggu hasilnya keluar beberapa bulan kemudian Di sini selesai sintesis kita bisa langsung karakterisasi sesuai dengan instrumen yang kita butuhkan dengan catatan kita mengoperasikannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Jadi bisa dibayangkan semester pertama disini saya sudah mendapatkan data yang sangat banyak yang mungkin saya butuhkan waktu bertahun-tahun jika di Indonesia dan menghasbiskan berjuta-juta sedangkan disini gratis.

Selain eksperimen saya diberi tugas oleh pembimbing untuk melakukan research review beberapa paper dan dipresentasikan, dengan jumlah tiga presentasi setiap semester untuk mendapatkan nilai tiap semester. Semoga nilai semester ini cukup menyenangkan, deg-degan juga nunggu hasilnya.

read more...

Rabu, 04 Maret 2020

Salju Pertama Dalam Hidup Kami di Hiroshima

Puji syukur tahun ini (2019) kita sekeluarga bisa berkumpul tinggal di Jepang tepatnya di Higashihiroshima. Sejak bulan Desember tahun lalu sudah musim dingin dengan sudah terkadang minus 2 derajat celcius, satu yang kita tunggu-tunggu adalah "salju". Ya..karena sepanjang hidup kami belum pernah lihat salju, mungkin karena kata orang-orang "Dolan mu kurang adoh". Maklum, walaupun kami sekeluarga suka jalan-jalan tapi paling jauh menyebrang pulau naik pesawat hanya di Bali itu pun mungkin 2 tahun sekali. Kesempatan sekolah di negeri dengan empat musim tidak kami sia-siakan, salah satunya karena ingin lihat salju.


Hari ini seperti biasa bangun pagi, sholat subuh, masak nasi kemudian ngobrol sebentar dengan istri lanjut masa (menu hari ini sayur soup dan ayam rica-rica). Waktu mau buang sampah diluar apato, buka pintu dan ternyata salju sudah turun sejak pagi cukup lebat, pohon-pohon dan rumput sudah tertutupi dengan salju. Langsung saja saya panggil istri dan anak lanang untuk menunjukkan saljunya. Diajaklah anak lanang keluar apato dengan menggunakan jaket cukup tebal, bahagia sekali liat anak sangat senang lihat salju sambil menghadapkan muka ke atas sambil buka mulut. Katanya enak makan salju (*jumlah yang masuk mulut sangat sedikit, jadi aman).



Kebahagiaan melihat salju pertama kali kemudian diikuti dengan rasa khawatir, sambil mikir bagaimana caranya kita berangkat ke kampus. Karena salju sudah turun cukup lebat, sambil lihat keluar lewat jendela apakah ada yang berangkat naik sepeda. Beberapa menit melihat keluar tidak nampak ada orang yang pakai sepeda untuk aktivitas mungkin karena licin. Sempat kepikitan untuk naik taksi untuk berangkat antar anak, ternyata sekali jalan 900 yen (seratus ribu rupiah lebih). Akhirnya karena tidak ada pilihan lain, nekatlah naik sepeda dengan catatan naiknya pelan-pelan sambil menahan terpaan udara dingin yang menusuk tulang.


Kesimpulannya cari paling enak menikmati salju adalah lewat video.....he...he....
read more...

Selasa, 03 Maret 2020

Kebersamaan berangkat sekolah bareng, satu keluarga di kampus yang sama.


Sudah satu bulan lebih anak lanang ikut sekolah dan tinggal di Jepang. Terkadang masih membayangkan beratnya menjadi dia untuk menghadapi semua ini, bahkan saya dan istri belum tentu mampu menghadapinya disaat kami setua ini. Setelah kami memutuskan untuk sekolah lagi, kami sepakat untuk meninggalkan anak di rumah untuk beberapa bulan sambil menyiapkan tempat tinggal dan sekolah buat anak. Saat itu saya berusaha meyakinkan istri bahwa itu bukan hal yang berat. Hari pertama kami berangkat, anak sementara ikut nenek. Ternyata sangat jauh dari apa yang saya bayangkan diawal, mulai dari perjalan ke bandara sampai ke tempat tujuan tiap ingat anak selalu sedih, merasa bersalah meninggal anak dengan orang tua kami sendiri di rumah hingga ujung-ujungnya nangis. Tiga bulan dilalui dengan rasa kangen yang terasa sangat, tiap hari video call dengan anak, namun anak selalu enggan ketika diajak berbicara seperti menahan sesuatu yang mungkin dia tidak bisa mengungkapkannya. Jika kami setua ini merasa berat menghadapi ini, tidak bisa membayangkan anak sekecil ini sudah harus tidur, mandi, sekolah tanpa ditemani orang tuanya. Hebatnya anak ini tidak pernah menunjukkan kesedihan itu kepada kami. Begitu kami mendapatkan ijin untuk pulang menjemput anak, rasanya bahagia sekali, tiap hari menandai kalender kurang berapa hari lagi akan ketemu dengan anak lanang. Begitu kami sampai di rumah dan ketemu anak, semakin saya sadari betapa sedihnya dia saat kami tinggalkan. Dia yang ketika awal kami berangkat selalu menolak untuk ikut ke Jepang karena lebih suka di Gresik, namun setelah kami tinggalkan selama tiga bulan, keinginan dia ikut ke Jepang sangat besar. Dia sangat antusias untuk ikut kami sekolah di Jepang, hingga akhirnya kita bertiga berangkat bersama.

Minggu pertama anak lanang sekolah dengan guru baru, teman baru, lingkungan baru, bahasa baru, makanan baru yang sama sekali tidak dia kenal. Saya saja satu bulan pertama setiap berangkat kuliah, tiap pagi perut selalu mules karena grogi dengan lingkungan yang sangat baru. Bagaimana dengan anak lanang? Sudah pastinya setiap pagi menangis di sekolah selama kurang lebih satu minggu. Peraturan sekolah tidak mengijinkan orang tua menemani anak walaupun hari pertama masuk. Jadi anak lanang lebih sering menangis di sekolah hingga sore hari kami jemput. Saya dan istri di kampus yang kami pikirkan hanya anak saya sedang ngapain di sekolah, hingga saatnya jemput dia dari sekolah, menurut Sensei di sekolah, dia nangis, ga mau main dan ga mau makan. Saat di rumah selalu mengatakan dia ga mau ditinggal sendiri, saya mikir apakah ini dampak dari kami tinggal tiga bulan pertama hingga dia khawatir jika harus kami tinggalkan lagi. Karena saat di rumah dia sangat senang tinggal bersama kami tapi selalu nangis ketika di tinggal di sekolah sendirian.

Alhamdulillah di minggu ketiga dia sekolah, anak lanang sudah sangat menikmati sekolahnya. Anak lanang sudah bisa beradaptasi dengan baik, pulang sekolah sudah bisa cerita di sekolah makan sayur, punya teman namanya Roteco, gurunya dipanggil Bunda Sense…he..he…bisa ngomong selamat pagi, terima kasih, sampai jumpa, sampai ketemu besok dalam Bahasa Jepang. Tiap malam menyanyi “cha..cha…cha..cha..” yang kami tidak tahu itu lagu apa. Sampai pada hari sabtu kami mendapat undangan dari sekolah untuk liat pertunjukkan dari murid-murid. Ternyata anak lanang beberapa hari di sekolah belajar untuk pertunjukkan dengan menyanyi lagu jepang “omocha no chacha”, yang dia lanjutkan di rumah. Sejak saat itu anak lanang sangat antusias dalam sekolah, tidak pernah nangis-nangis lagi saat berangkat sekolah. Jika saya atau istri berada di posisi seperti anak lanang mungkin belum tentu mampu menjalani secepat itu untuk beradaptasi, yang ternyata anak saya lebih bisa. Semangat tinggal bersama dari kami dan tentunya anak lanang semakin meyakinkan untuk menjalani semuanya. Alhamdulillah anak lanang tidak protes tinggal disini, makan seadanya, rumah seadanya, kemana-mana naik sepeda pancal. Maka selalu kami ucapkan syukur atas kebersamaan dan kesempatan belajar yang sekarang kami jalani bersama.

*Mortimer Adler : Tujuan dari belajar adalah untuk tumbuh. Dan akal kita, berbeda dengan tubuh kita, bisa terus bertumbuh selama kita hidup.
read more...

Reaktor Autoclave Bernama Sekolah


AUTOCLAVE adalah sejenis reaktor yang digunakan untuk sintesis beberapa material dan kristal. Cara kerja autoclave adalah bahan baku dimasukkan ke dalam reaktor kemudian diberi perlakuan panas, kondisi autoclave tertutup sehingga akan menghasilkanpanas dan tekanan yang sangat tinggi. Suhu dan tekanan tinggi tersebut akan membantu terbentuknya struktur kristal yang diinginkan. Kita tidak pernah mengetahui secara pasti apa yang terjadi di dalamnya karena sistem tertutup dan umumnya terbuat dari stainless steel sehingga di beberapa jurnal autoclave ini dikatakan sebagai black box.

Apa hubungannya dengan SEKOLAH?


Beberapa hari ini terusik dengan orang tua yang menginginkan sekolah anaknya seperti autoclave, bahkan ada yg menginginkan seperti kotak ajaib yang digunakan pesulap dalam melakukan aksi, bisa mengeluarkan atau mengubah apapun yang diinginkan. Begitulah pandangan beberapa orang tua saat ini terhadap sekolah, mereka rela melakukan apapun dan membayar berapa pun agar anaknya masuk ke sekolah tertentu. Kebanggan anaknya masuk ke sekolah tertentu mengalahkan kebanggaan mereka terhadap prestasi anaknya. Mereka beranggapan saat anaknya sudah masuk sekolah tersebut, maka tugas mereka untuk mendidik anak sudah lunas.

Anaknya berangkat sekolah dan berharap saat pulang/lulus sudah menjadi anak yang sesuai dengan keinginannya. Mereka bayar sekolah tanpa mengetahui apa yang dilakukan anaknya dan berharap lulus sekolah menjadi anak yang pintar. Kalau anaknya sudah sekolah mereka tidak tahu aktivitas apa yang dilakukan anak untuk meningkatkan akhlak, softskill dan hardskill anaknya, menurutnya itu tanggung jawab bapak/ibu guru. Padahal seorang anak rata-rata menghabiskan waktu di sekolah/universitas selama 6-8 jam, sisanya 16 jam di luar sekolah. Bisa jadi 8 jam itu akan sangat sia-sia jika 1 jam saja sisanya dilakukan untuk hal yang tidak bermanfaat atau di lingkungan yang negatif. Sintesis 8 jam di dalam reaktor akan siasia jika diikuti dengan perlakuan yang salah terhadap material tersebut baik sebelum atau sesudah reaksi.

Contoh 1 : Beberapa kasus sintesis mixed metal oxide, perbedaan pH (keasaman) bahan baku dalam reaksi hidrotermal di autoclave akan mempengaruhi mekanisme reaksinya sehingga menghasilkan struktur kristal yang berbeda, tentu sifat material yang dihasilkan akan sangat jauh berbeda pula. Seorang anak harus diberi dukungan sebelum sekolah agar siap untuk melakukan proses belajar di sekolah, jangan beri beban-beban yang dapat mempengaruhi aktivitasnya di sekolah. Berikan dukungan dan kondisi (seperti pH dalam reaksi di atas), sehingga menghasilkan anak (kristal) yang baik.

Contoh 2 : Kondisi di dalam reaktor juga sangat berpengaruh, reaksi di dalam reaktor sangat dipengaruhi suhu, tekanan, jumlah bahan, waktu reaksi dan lain-lain. Sekolah akan membuat kondisi-kondisi yang ideal untuk mengahasilkan kristal melalui kinerja guru dan seluruh sivitas sekolah. Guru harus memahami capaian pembelajaran dan bagaimana cara mencapainya.

Contoh 3 : Sintesis kristal tidak berhenti sampai keluarnya bahan dari autoclave, setelah keluar dari reaktor maka diperlukan beberapa perlakuan misalkan pencucian dengan pelarut-pelarut tertentu untuk menghilangkan pengotor. Setelah itu material harus disimpan dalam kondisi-kondisi tertentu sesuai dengan sifat kristalnya misalkan disimpan dalam wadah tertutup dan tidak kena cahaya matahari. Kegiatan pasca sekolah juga menjadi hal yang penting, sekolah dan orang tua harus tetap melakukan pendampingan, untuk menghilangkan hal-hal negatif atau kontaminasi yang mungkin didapatkan selama proses berlangsung serta menjaga agar anak tetap berada pada jalan yang baik tidak terkena kontaminasi.

Sekolah bukanlah reaktor autoclave, sekolah adalah reaktor autoclave transparan, semua proses  di dalamnya direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi oleh sivitas sekolah maupun pihak di luar sekolah, sehingga orang tua juga dapat terlibat aktif dalam proses belajar anaknya. Anak kita akan menjadi kristal dengan mempersiapkan segalanya mulai dari sebelum masuk reaktor hingga setelah keluar dari autoclave. Mereka yang yang sudah terbiasa dengan suhu dan tekanan di dalam autoclave akan lebih mudah beradaptasi ketika mereka sudah berada di lulus.

Sekolah sebagai reaktor autoclave, maka anak sebagai bahan baku akan menerima suhu dan tekanan yang tinggi, apakah itu menyenangkan? Tentunya tidak sama sekali. Terus untuk apa mereka menerima suhu dan tekanan? Karena sekolah akan menjadikan anak-anak tersebut menjadi kristal yang tentunya akan membawa manfaat bagi agama, bangsa dan negaranya melalui kondisi-kondisi tersebut.

Kondisi suhu dan tekanan bermacammacam tergantung tingkatan dan bidang sekolah tersebut. Kondisi tersebut sudah diatur dalam berbagai macam peraturan, misalkan yang tertuang dalam Standar Nasional DIKTI yang menyatakan bahwa 1 semester minimal 16 pertemuan, 1 sks kuliah artinya tatap muka 50 menit, tugas terstruktur 60 menit dan tugas mandiri 60 menit perminggu. Jadi orang tua jangan khawatir atau takut jika guru memberikan suhu dan tekanan berlebih karena semua sudah diatur dalam undang-undang. Kemudian jika ada anak mengeluh kepada orang tuanya karena tugas-tugas dan kuliah, saat itu lah anda sebagai orang tua bersyukur bahwa sekolah anak anda sedang melakukan perlakuan untuk menjadikan anak anda sebagai kristal yang memiliki nilai guna dan nilai jual lebih tinggi. Khawatirlah kalau anak kita tidak sibuk dengan kegiatan sekolah atau justru disibukkan dengan kegiatan di luar sekolah yang belum kita ketahui manfaatnya.

Intan dan arang berdasarkan atom penyusunnya sama-sama dari karbon (C), namun keduanya memiliki sifat, fungsi dan nilai jual yang bereda. Intan dan arang berbeda dalam hal strukturnya, intan memiliki struktur teratur, rapat dan ikatan yang kuat sehingga memiliki sifat kekerasan yang tinggi, sedangkan sifat arang sebaliknya. Intan memiliki nilai jual yang sangat tinggi dibandingkan dengan arang. Intan terbentuk dari karbon pada kondisi suhu ribuan derajat dan tekanan tinggi dalam waktu jutaan tahun. Itulah kenapa intan menjadi material keras dan berkilau indah. Jika arang kita diamkan tanpa perlakukan apa-apa maka selamanya tidak akan pernah menjadi intan. Bagitu juga dengan anak-anak kita semua terlahir dengan material penyusun yang sama, tinggal kita sebagai orang tua mau menjadikannya intan yang kuat dan berkilai atau arang yang rapuh.

Proses belajar memang sangat melelahkan bahkan membosankan, karena hasilnya tidak bisa kita petik dalam waktu yang singkat. Belajar akan membuat masa depan anak kita tidak melelahkan dan membosankan. Jangan berharap menjadi intan jika tidak pernah dikenai suhu dan tekanan, jangan berharap panen jika tidak pernah menanam. Saat mahasiswa lain membanggakan nama besar kampusnya, UISI bangga dengan prestasi mahasiswanya. 

*Tulisan ini pernah dimuat di Radar Gresik pada 10 Desember 2019.
read more...